Kurikulum pendidikan
di Indonesia semakin lama semakin mebuat stress. Untuk masuk SD, banyak sekolah yang mensyaratkan
mengikuti tes Calistung dimana dari tes tersebut akan diketahui apakah
calon siswa mampu membaca, menulis dan berhitung (salah satu syarat
masuk SD adalah mampu membaca, menulis dan berhitung). Padahal di jaman
saya dulu membaca baru dipelajari saat saya ada di kelas satu SD, jadi
untuk masuk tidak diwjibkan bisa membaca. Kondisi ini membuat orang tua
ketar ketir, mencari TK yang bisa mengajar anak meraka membaca, menulis
dan berhitung. Apakah ini benar?
Tahu gak seh dari sekian banyak
negara di dunia Indonesia adalah salah satu negara yang tergesa gesa
dalam memaksakan penguasaan kompetensi. Siswa TK sudah diajari membaca
huruf dan tulisan, berhitung dan menulis Alfabet. Di negara negara maju
yang SDMnya terbukti lebih unggul usia balita hingga TK adalah usia
dimana mereka diberikan hak untuk bermain (jadi ada istilah bermain
sambil belajar), sedangkan untuk belajar (Calistung) dimulai usai 7
tahun (Source:biologimediacentre.com)
Berbagai pro dan kontra tentang anak usia dini, apakah boleh belajar
membaca, menulis dan berhitung masih menjadi pembicaraan di masyarakat.
Berbagai penelitian dan pendapat yang mendukung bahwa anak usia dibawah 7
tahun boleh untuk belajar calistung, dan penelitian lain berbeda
pendapat bahwa anak pada usia tersebut jangan diberikan pelajaran
calistung. Mereka khawatir bila anak sejak kecil sudah dipaksakan
belajar, lama kelamaan akan menjadi bosan dan justru ketika saatnya usia
SD mereka justru akan mogok sekolah karena mereka lelah dan akan menimbulkan rasa benci terhadap belajar.
Alasan kontra tersebut selaras dengan penelitian seorang ahli psikolog
perkembangan anak dari Swiss, Jean Piaget, seperti yang dituangkan oleh
Afin Murtie pada bukunya Mengajari Anak Calistung dengan Bermain. Ia
menyatakan bahwa pendidikan membaca, menulis dan berhitung jangan sampai
diperkenalkan kepada anak-anak dibawah usia 7 tahun. Alasannya, karena
pada masa itu anak-anak belum dapat berpikir operasional konkret
sehingga ditakutkan pelajaran tersebut akan membebani mereka yang belum
mampu untuk berpikir secara terstruktur. Sementara itu kegiatan
calistung sendiri didefinisikan sebagai kegiatan yang memerlukan cara
berpikir terstruktur, sehingga tidak sesuai bila diajarkan pada anak
usia dibawah 7 tahun. Apalagi pada anak-anak usia bayi dan balita.
Piaget mengkhawatirkan otak anak-anak tersebut menjadi terbebani dan
tujuan awal mencerdaskan anak menjadi dilema karena justru anak-anak
menjadi tidak bahagia dan tidak bisa menikmati kehidupan mereka.
Tapi pendapat Piaget ini dimentalkan oleh beberapa penelitian lain yang mebuktikan bahwa usia Pra TK adalah usia dimana kemampuan anak anak untuk belajar ada pada level yang paling tinggi. Penelitian penelitian itu diantarany:
Diantaranya :
- Glenn Doman dengan kartu flash-nya, dimana ia menunjukkan bahwa pada bayi jauh lebih mampu belajar dari yang kita bayangkan.
- Howard Gardner, psikolog perkembangan dari Amerika, tentang cara
memandang calistung sebagai sebagian kecil keterampilan yang seharusnya
diperoleh anak, seperti motorik dan sensorik.
- Dr. Marian Diamond, Profesor University of California-Berkeley,
menyimpulkan bahwa pada umur berapapun semenjak manusia lahir hingga
meninggal dunia sangat memungkinkan untuk meningkatkan kemampuan mental
melalui rangsangan lingkungan
- Elisabeth G. Hainstock, Penemu metode montessori, menyatakan bahwa
puncak perkembangan otak anak adalah saat usia pra sekolah.(Bunda Ranis)
Dari pro konta ini, sebenarnya kita bisa menarik sebuah kesimpulan bahwa
pendapat Piaget tidak salah dan pendapat lain yang bertentangan juga tidak salah, bahwa anak
belajar calistung semenjak dini bukanlah hal yang tabu. Hal ini adalah sangat bisa dan
tetap membuat mereka bahagia. Bahkan di masa golden age inilah, anak
harus mendapat stimulus yang tepat agar mereka benar-benar dapat
tercetak menjadi generasi emas yang dapat memajukan bangsa dan negara.
Kuncinya hanya terletak pada cara transfer pengetahuan calistung itu
sendiri dengan tanpa mengesampingkan nature usia mereka yaitu bermain dan bersenang senang.
Kuncinya adalah kita
harus mengikuti dunianya anak-anak, yaitu bermain. Jadi pembelajaran
dilakukan dengan menyenangkan, tidak membebani anak sehingga mereka
tidak merasa terpaksa. Sulit sekali rasanya bila harus mengatur anak
usia dini harus duduk diam dengan manis, belajar serius dan kaku. Beda
halnya bila pembelajaran dilakukan sambil bermain, maka anak akan lebih
mudah paham dan dapat mengingat untuk memory jangka panjang.